Dibantah Kominfo hingga Validitas, Ini 7 Fakta Dugaan Kebocoran Data Registrasi SIM

Lagi dan lagi, isu kebocoran data terjadi di Indonesia. Kali ini, sebuah akun di breached.to mengklaim memiliki 1,3 miliar data registrasi SIM prabayar milik para pengguna di Tanah Air.

Akun yang mengatas namakan Bjorka itu menyebut, data itu diperoleh dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Dijelaskan data berukuran 87GB ini berisikan NIK, nomor ponsel, operator seluler yang dipakai, dan tanggal registrasi.

Diketahui, pemerintah memang menerapkan peraturan di mana pengguna ponsel harus mendaftarkan nomor HP mereka dilengkapi dengan KTP dan KK.

Bagi pihak yang tertarik untuk membeli data tersebut, Bjorka pun mengatakan dirinya menjual 1,3 miliar data registrasi SIM Prabayar tersebut seharga USD 50.000.

Sebagai contoh atau sampel untuk membuktikan kebenarannya, sang penjual membagikan gratis 2 juta sampel data registrasi miliknya tersebut.

Berikut beberapa fakta dan pernyataan berbagai pihak yang terkait isu kebocoran data tersebut:

1. Bantahan Kominfo

Melalui pernyataan di laman resminya, pada Kamis (1/9/2022), Kominfo membantah bahwa data tersebut bocor dari server milik kementerian. Kominfo juga menyatakan tidak memiliki aplikasi untuk menampung data registrasi prabayar dan pascabayar.

“Berdasarkan pengamatan atas penggalan data yang disebarkan oleh akun Bjorka, dapat disimpulkan bahwa data tersebut tidak berasal dari (server) Kementerian Kominfo,” kata Kominfo.

Meski begitu, Kominfo tetap melakukan penelusuran lebih lanjut terkait sumber data dan hal-hal lain yang terkait dengan dugaan kebocoran data tersebut.

Source Link